PERGAULAN DAN PERSAHABATAN

Pergaulan dan Persahabatan

Salah satu prinsip pengabdian kepada Allah yang tidak bisa diabaikan adalah menjalin hubungan dengan sesama manusia. Bahkan secara jelas Al-Quran menyatakan bahwa hubungan manusia ( hablu min al-nas) harus seiring dengan hubungan dengan Allah (hablu min Allah) karena kita sebagai manusia tidak mungkin dapat hidup sendiri. Semua manusia sudah dapat dipastikan akan selalu saling membutuhkan satu sama lain. Terutama bagi pribadi yang mulai atau bahkan telah menapaki usia 40 tahun, pergaulan tentu menjadi salah satu dari prioritas yang paling utama.

           Dalam hal pergaulan (sesrawungan), Ki Ageng Suryomentaram memberikan wejangan yang cukup menarik. Menuruk Ki Ageng, "Hal yang mendorong seseorang untuk bergaul antara satu dan yang lain awalnya adalah kesamaan rasa meskipun setiap orang memiliki kebiasaan berbeda-beda, Kesamaan rasa inilah yang mendorong orang untuk mengekspresikan peraaan hatinya kepada orang lain saat ia mengetahui, merasakan sesuatu atau peristiwa. Oleh karena itu, seseorang lantas membutuhkan kehadiran orang lain dan kemudian saling berinteraksi.

             Ketika seseorang merasa telah mengetahui seseatu atau peristiwa, biasanya ia akan berusaha meluapkan (khanda) perasaan hatinya kepada orang lain. Sementara, ketika seseorang belum mengetahui sesuatu atau peristiwa maka ia akan berusaha melupakan (khanda) perasaan hatinya kepada orang lain. Sementara, ketika seseorang belum mengetahui sesuatu atau peristiwa maka ia akan berusaha (takon) kepada orang lain. Namun, Ketika seseorang tak mampu membedakan antara kesamaan rasa dan kebiasaan dirinya maka itu takkan berlangsung kenyamaan. Bahkan bisa terjadi salah paham. Oleh karena itu, sebelum menjalin komunikasi dengan cara ini kepada orang lain, terlebih dahulu kita mesti dapat memilah mana yang merupakan kesamaan rasa dan mana yang hanya menjadi kebiasaan orang per orang.


             Misalnya, dua orang yang sama-sama memiliki kegemaran. Satu pihak gemar minum teh, sedangkan yang lain menyukai kopi. Sebagai objek kegemaran, teh dan kopi adalah sesuatu yang hak sebagai sesuatu yang digemari. Ketika kesamaan rasa tadi bercampur, takkan pernah ada titik temu. Mengapa demikian, karena mereka akan sama-sama menjadikan objek rasa suka yang berbeda-beda, dan bukan perasaan sukanya yang sama. Dengan demikian, masing-masing orang akan saling belomba mempertahankan atau mencari kebenarannya sendiri, sesuai dengan kebiasannya dalam menyukai sesuatu atau keadaan tertemtu.

              Sebagai keributan yang terjadi antara dua orang atau lebih. sebagian besar berhulu dari pijakan yang salah dalam soal ini. sedari kesukaan terhadap teh dan kopi seperti yang dicontohkan barusan, hingga ideologi, agama, bahkan tuhan. Nah, karena hal yang mendasar di dalam berkomunikasi ini tidak dapat terpaham dengan baik, yang akan terjadi dalam sebuah pergaulan adalah perlombaan mencari pembenaran, bukan mencari kebenaran, Lalu ungkapan yang kedengaraannya bijak, tetapi sesungguhnua sangat menyesatkan pun dijadikan pedoman demi sebuah pemakluman: benar buat diri sendiri, benar untuk orang lain, dan benar bagi semua orang.

               Sampai sini, selain "sindiran" Syaikh Ibn 'Athaillah Sakandariy terkait dengan pergaulan di atas, Rabundranath Tagore dalam Gitanjali juga menawarkan buah renungannya, "Tinggalkan lagu lama itu, Kepada siapa kautujukan di sudut senyap dalam masjid dengan mata tertutup? Buka matamu lebar-lebar dan lihat tuhanmu tidak ada di hadapanmu. Dia ada di sana. Di tempat para peladang yang membajak tanah yang keras, di tempat para pembuat jalan setapak yang memecah batu-batu. Dia bersama mereka dalam panas dan hujan, dengan pakaian berlumur berdebu. Sampiri mereka ajak mereka beribadah dengan perlahan.


Subscribe to receive free email updates: